Catur-catur-catur Politik
Permainan bidak-bidak di atas 64 kotak hitam putih ini
adalah salah satu cabang olahraga yang digemari berbagai kalangan, mulai dari
anak-anak, remaja, dan kebanyakan orang dewasa. Tak percaya ? bisa dibuktikan
dengan pertandingan catur tingkat dunia di berbagai usia. Yang membanggakan,
Indonesia juga pernah mencicipi Juara dunia. Irwin Irnandi di usia 10 tahun, Maria Lucia Ratna Sulistya di Usia 14 Tahun pada
1989 dan Utut Adianto untuk usia 14 tahun pada 1979. Saat ini siapa yang tidak
kenal GM. Susanto Megaranto, GMW. Irene Kharisma Sukandar ?
So, tak perlu berargumen tentang kalangan mana yang gemar bermain catur, yang perlu dipertanyakan adalah, Apakah catur itu olahraga? Hahaha, ini bukan olahraga yang “sebenarnya”. Tapi lebih ke Olahraga Mental sih kalau orang pakar bilang.
So, tak perlu berargumen tentang kalangan mana yang gemar bermain catur, yang perlu dipertanyakan adalah, Apakah catur itu olahraga? Hahaha, ini bukan olahraga yang “sebenarnya”. Tapi lebih ke Olahraga Mental sih kalau orang pakar bilang.
Sejarah permainan catur masih ditelisik oleh sejarahwan dan ilmuan.
Murray mengatakan bahwa catur berasal dari india yang telah ada di Abad ke-6,
awalnya bernama Chaturaga, namun dibantah Muhammad Ismail Sloan yang berpendapat
bahwa permainan catur sudah disebutkan dalam syair-syair ciptaan pujangga Cina
800 tahun sebelumnya. Awalnya hanya 4 bidak yang melambangkan 4 unsur utama di
dunia yaitu air, tanah, udara, api hingga saat ini berjumlah 16 untuk
masing-masing pemain yang terdiri dari raja, menteri, benteng, gajah, kuda,
pion. Arena yang awalnya bulat-bulat hingga
menjadi kotak hitam putih seperti kita ketahui saat ini. Mulai dari permainan
untuk sekadar hobi hingga permainan tingkat Dunia oleh World Chess Federation
Atau Federation Internationale Des Eches
(FIDE) yang berdiri tanggal 24 Juli 1924 dan saat ini beranggotakan 157 Negara.
Penelitian termutakhir di Eropa mengatakan bahwa usia permainan ini ternyata
lebih tua dari yang diduga karena ditemukan potongan bidak catur berbahan
gading 500 tahun lebih tua dari sebelumya. Ehhhmm entah apapun yang benar,
Catur adalah permainan yang dapat mempertajam daya nalar, meningkatkan daya
kreativitas dan strategi. Setuju? Harus setuju!
Ada satu pengalaman tentang permainan catur bersama bapak
atau kakak ketika aku kecil yang masih kuat bertengger di ingatan. Saat
mengingat itu pasti akan ada lengkungan yang membentuk senyum. Itu adalah saat
satu buah bidak catur telah mati langkah dan tidak mungkin terselamatkan lagi,
yang akan “dimakan” saat langkah selanjutnya, mereka akan mengangkat bidak itu
dan meniupnya sambil berkata “udah kedinginan dia”. Wkwkwkwkkwwk. Memoriable.
Now What will I consider if you mention “Chess” in my Face?
For me, it is like politics, the finesse art of achieving
goals. But, do you really think that politics is an art? By seeing Social media,
Television, Newspaper etc, we’ll absolutely know that Politics nowadays is losing
it’s glorious status as a beautiful art. Ahh, capek bahasa inggris, cek google
translate mulu. Yaa, Permainan Catur itu adalah kemampuan berpikir strategi
untuk mencapai tujuan, yang dalam hal ini adalah kemenangan. Sering sekali catur
dianalogikan sebagai cara-cara berpolitik. Tentu saja itu ada benarnya. Cara
mengatur serangan, cara bertahan dari serangan lawan, mengorbankan sesuatu atau
seseorang untuk kesuksesan pun dirasa fine-fine saja. Tapi saat ini, politik
sudah nyeleneh ke mana-mana, lari dari defenisi awal yang mengatakan bahwa
Politik itu tidak selalu buruk, indah, teratur dan sangat diperlukan untuk
keberlangsungan Negara khususnya negara yang berdemokrasi. Nyatanya, saat ini
politik telah menjadi sumber penghasilan utama banyak orang, dan itu tentu menyangkut
sisi perekonomi seseorang. Nah, anda-anda semua pasti tahu apa prinsip Ekonomi
yang sudah dipelajari dari kita Sekolah Dasar? Ya, Dengan modal
sekecil-kecilnya, UNTUK KEUNTUNGAN YANG SEBESAR-BESARNYA. Kira-kira begitu
bukan? Jadi demi tujuan itu orang akan rela kehilangan ART politik dan
mengorbankan Pion,Kuda, gajah, benteng, bahkan Menteri.
Lihatlah, sekarang Ia juga mulai memasuki bidang AGAMA. Perlu digaris-bawahi bahwa saya mengatakan saat ini Politik yang memasuki Agama, padahal yang seharusnya Agamalah dasar seseorang berpolitik. Banyak hoax, pemain-pemain catur amatir yang tak berdasar yang tersetir sesuai permintaan. Ahh, goblig dah pokoknya. Saran kepada teman, berpolitiklah ketika kitas sudah bisa meletakkan dasar Integritas Politik di atas Prinsip Ekonomi sehingga kita tidak bermain catur politik di papan catur milik orang lain yang ketika menang tak mendapat untung dan ketika kalah menanggung malu. Kawan kawanku yang terkasih, mending ambil itu bidak papan catur, kita main catur sepuasnya, yang kalah bayar kopi nah.. setuju?
Comments
Post a Comment